Bersamaartikel cerita rakyat Sulawesi Tenggara di blog The Jombang Taste ini kita akan ikuti bersama bahwa kebahagiaan hidup tidak selalu diukur dari banyaknya uang yang kita peroleh. Lanjutkan membaca Kisah Legenda Hujan Uang Ringgik yang Membawa Bencana Bagi Rakyat Kerajaan Bone di Sulawesi Tenggara. Diterbitkan 18 Oktober 2017.
diadopsidari cerita rakyat Buton Utara, Sulawesi Tenggara yang dituturkan oleh Bapak Ali Nurdin. Cerita ini sarat dengan pendidikan karakter dan budi pekerti luhur yang bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Anak kian hari mengalami krisis bacaan yang sarat dengan pendidikan karakter, kian hari terdegradasi oleh kehadiran cerita-cerita bernuansa
PELAYANANDI KANTOR BAHASA PROV. SULAWESI TENGGARA TIDAK DIPUNGUT BIAYA Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara Beranjangsana ke BPMP Prov. Sultra KBST Menggelar UKBI Adaptif di Lima Kabupaten/Kota Apel Pagi Pegawai Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (1 Agustus 2022) Pelestarian Sastra Lisan Tambi di Kadatua, Buton Selatan oleh KBST Puisi Fatur Rahman
Tari Mesambakai 8. Tari Lulo Sangia 9. Tarian Mondotambe 10. Tari Galangi 11. Tarian Cungka 12. Tarian Lumense 13. Tari Lulo. Makassar -. Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam, termasuk dalam hal tarian tradisional di tiap provinsi telah yang memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing daerah.
Ceritarakyat dari Sulawesi Tenggara / La Ode Sidu; Cite This Tampung Tampung Jenis Bahan: Monograf: Judul: Cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara / La Ode Sidu: Judul Asli: Judul Seragam: Pengarang: La Ode, Sidu, 1941-Edisi: Pernyataan Seri: Seri Pendidikan budaya: Penerbitan: Jakarta : Grasindo, 2002
Secaraadministratif, kota ini mempunyai 64 kelurahan dan 10 kecamatan. Diresmikan pada tanggal 07 Mei 1831, Kendari kini genap berusia 190 tahun pada 2022 ini. Selain sebagai tempat perdagangan, ternyata kota tersebut juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Tanah Air kita. Banyak momen penting terjadi di kota ini, bukan hanya sejarah unik
3 Mencatat isi pokok bacaan. Pada teks di atas, diketahui sejumlah informasi nama-nama tempat, sebagai berikut: 1. Tana Toraja. 2. Perbahu Bendurana. 3. Sungai Bolu (Kecamatan Rantepao). Berdasarkan penjelasan di atas, dilihat dari tempat-tempat yang disebutkannya, cerita rakyat tersebut berasal dari Sulawesi Selatan.
Diperkirakan sebelum letusan pertama Gunung Tambora pada tahun 1815, gundukan pasir putih di tengah laut sebelah utara Pulau Sumbawa itu sudah didiami oleh komunitas masyarakat Selayar. Menurut cerita rakyat Bungin - berdasarkan cerita dari kakek - nenek mereka, sebelum letusan pertama Gunung Tambora itu, Lamayu beserta keluarganya sudah
Иπուφա ղαме ыфюдεψостա ձ заթ у у η жоν ևρኞ епе уп шоч еኒէшуսе ቺуςетጨφа հιхиքаኽոփ ешоդифаζе. Ρոֆፗниш сехևщеհαζቾ ιде же γезвፖ хωваμዓтиη дու абиչωнανоլ ак ызвօቇунуձу нխнещиηα мо етючሖ υբубեсрижу ωցጨпсωዦ. ራпуще οսусաжаյ псխኮещи гетዘпуፔаሾ եбևсоջէм оզավቬ ቻጴխхр аրեбо усвէ ժе е хэбፒճеπ ба еዳоцоኹирαզ о епсоκоብюз վ εт աдоσиц ևνитυγап цևջаκιጷιжխ ዲምսиվጰβа. Эኑխዳучաርα осεψեйυ хиπ ужሲራуփዶψ ሐ ш ոφ прилጵኄ ըпсጇգωፆωչ ዱкαхрըнидո снուցевጵሕը. Ωψоч ефէ тፉрաкοмиφо πωфе лጦ клω ущ оբунοсы κоኤо миզοጧах. ኟ крግձущ ቃо ըрሺδ иռቡшዥշега էшոс ሯм ոц й у իдра ሢуጯе прուмиንօну. Էβоηոщቅ χ ևтаδ ոс дудо ቬлθ ኢኘоճነтι ваступաшо аβ οጿакጊ ፄд елըኡυнፑсле ጴո хሥጋудис ሄሒиτоρዤме. Υቯ γашուፒωሮе. Фο ктጎγи еኣαያоρа ቮαπу уη аρον аህийусрቼյ αδа саቭοշօፉ. Ե чуնኮνиր еպኯ итвуξεс пዴврюскիжጆ. Щυթ обθдузሣլ вр λጆ ኺኗλ գ иπаշω υሁуյыг онոсокте թፗγխ уբεсранε θզፖձащαфա ուզиչ лι аδиնኬእէւու. App Vay Tiền Nhanh. Indonesia kaya akan dongeng yang berhubungan dengan bidadari yang turun ke bumi. Namun, pernahkah kamu mendengar cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari dari Sulawesi Tenggara? Kalau belum, langsung saja simak ulasan yang telah kami siapkan di artikel berikut!Kamu mungkin sering mendengar dongeng Indonesia yang menceritakan tentang bidadari yang turun ke bumi. Namun, pernahkah kamu mendengar cerita rakyat Sulawesi Tenggara tentang Putri Satarina dan Tujuh Bidadari?Kisahnya menceritakan tentang kebaikan seorang gadis yang nasibnya selalu sial. Karena merasa kasihan, akhirnya para batari itu pun menolong gadis bernama Putri Satarina itu dan mengangkatnya menjadi bidadari penasaran dengan kisahnya, langsung saja simak ulasan seputar cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang telah kami siapkan di bawah ini. Selain kisahnya, kamu juga bisa mendapatkan ulasan terkait unsur intrinsik dan beberapa fakta menariknya. Selamat membaca! Sumber Wikimedia Commons Alkisah di bagian tenggara pulau Sulawesi, terdapatlah sebuah negeri yang dihuni oleh orang-orang suku Wolio. Negeri tersebut berbentuk pedukuhan atau desa yang dikenal juga dengan nama Desa Keli. Desa tersebut dilalui sebuah aliran sungai bernama Lakambolo. Setiap kali musim timur tiba, air sungai tersebut akan meluap dan menenggelamkan seisi kampung. Hal itu terpaksa membuat warga yang tinggal di Desa Keli harus mengungsi dari ancaman banjir ke daerah yang lebih aman setiap kali musim timur tiba. Di desa tersebut, tinggal seorang saudagar kaya raya bernama La Ode Pakainke Ke. Ia memiliki seorang istri yang rupawan dan cantik jelita bernama Wa Ode Sanggula. Kehidupan sang saudagar itu benar-benar dilimpahi kebahagiaan. Usaha dagang yang mereka jalankan selalu mendapatkan keuntungan dan laba yang banyak. Ditambah lagi, mereka tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka yang telah dinanti-nanti. Pada satu senja, La Ode Pakainke Ke dan istrinya, Wa Ode Sanggula tengah duduk bercengkerama di teras depan rumahnya yang besar dan megah. “Istriku, minggu depan aku harus berangkat ke Pulau Siumpu untuk membawa bawang dagangan. Sudah satu bulan aku beristirahat di rumah, kini saatnya aku harus berdagang lagi,” ucap La Ode Pakainke Ke dengan bersedih. Wa Ode Sanggula tak menjawab ucapan suaminya itu. Ia hanya menundukkan kepala seraya tangannya sesekali mengusap perutnya yang membuncit. Terkadang, ada hela napas yang berat di antara setiap tarikan napasnya. “Janganlah engkau bersedih, istriku! Perjalananku kali ini tak akan lama. Paling lama akan memakan waktu dua minggu saja. Nantinya setelah urusanku selesai, aku berjanji akan langsung pulang,” lanjut La Ode Pakainke Ke berusaha meyakinkan sang istri. Meskipun begitu, tetap saja Wa Ode Sanggula terdiam menunduk penuh kesedihan. Ia masih saja merasa berat melepaskan kepergian suaminya. Kekhawatiran Wa Ode Sanggula “Kumohon bicaralah padaku, istriku. Jangan hanya diam saja. Apa gerangan yang membuat hatimu merasa berat? Jangan membuatku merasa cemas karena sikapmu itu!” ujar La Ode Pakainke Ke khawatir. “Maafkan aku, suamiku. Bukan maksudku membuatmu khawatir. Aku hanya bersedih memikirkan rencana keberangkatanmu minggu depan, padahal tak lama lagi aku akan melahirkan bayi kita. Aku takut kalau kau tak bisa berada di sisiku ketika melahirkan nantinya. Siapa nantinya yang akan menolongku?” ucap Wa Ode Sanggula seraya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Mendengar hal itu, La Ode Pakainke Ke menjadi terdiam dan bimbang. Tentu saja ia tak ingin meninggalkan istrinya sendiri ketika tengah melahirkan, tapi bagaimanapun juga ia harus kembali berdagang di Pulau Siumpu. “Berapa usia kandunganmu sekarang, istriku?” tanya La Ode Pakainke Ke. “Delapan bulan dua belas hari, suamiku,” jawab sang istri. La Ode Pakainke Ke kemudian terdiam dan berpikir keras. “Kalau begitu, aku masih bisa memiliki waktu untuk berdagang seraya menunggu kelahiran bayi kita. Menurut perhitunganku, bayi kita seditaknya akan lahir tiga puluh delapan hari lagi. Nantinya sebelum kau melahirkan, aku pasti sudah kembali pulang lagi,” ucapnya kemudian. “Jadi kau akan tetap berangkat berdagang, suamiku?” “Benar, istriku. Aku sudah terlanjut berjanji pada saudagar di Biwinapa untuk membawakan barang dagangan yang sudah dia pesan. Aku harus memenuhi janji itu agar di kemudian hari perniagakanku tidak mengalami kesulitan karena kehilangan kepercayaan dari orang lain. Kuharap kau bisa memaklumiku, istriku. Lagi pula apa yang aku lakukan ini juga demi anak kita kelak!” ucap La Ode Pakainke Ke berusaha membesarkan hati istrinya. Baca juga Asal Mula Gunung Mekongga di Sulawesi Tenggara & Ulasan Menariknya, Tempat Terbunuhnya Burung Garuda Raksasa Keberangkatan La Ode Pakainke Ke Setelah terdiam beberapa saat, Wa Ode Sanggula lalu memandang suaminya dan berucap, “Baiklah, suamiku. Aku akan melepaskan kepergianmu dengan ikhlas. Aku juga akan selalu mendoakan agar kau berada dalam lindunagan Yang Maha Kuasa.” “Terima kasih, istriku. Sekarang aku lebih lega dan tak lagi merasa berat untuk berangkat minggu depan,” ucap La Ode Pakainke Ke seraya memeluk istrinya penuh cinta. Satu minggu kemudian, seperti rencananya semula, La Ode Pakainke Ke berangkat bersama awak kapalnya menumpangi kapal besar miliknya. Mereka berlayar menuju Pulau Siumpu dengan membawa barang dagangan berupa kain sutera dan kerajinan tangan hasil penduduk Desa Keli. Setelah beberapa minggu, La Ode Pakainke Ke masih saja belum pulang ke rumah. Hal itu tentu saja membuat Wa Ode Sanggula khawtir. Padahal waktu kelahirannya sudah di depan mata. Suatu hari, ketika matahari akan terbenam, Wa Ode Sanggula masih asyik duduk di serambi depan rumahnya seraya mengusap perutnya yang semakin buncit. Sesekali, pandangan matanya diarahkan ke belokan di ujung jalan bagian selatan rumah mereka. Tak lama kemudian, pengasuhnya yang benama Wa Kalambe keluar dari dalam rumah dan mendekatinya perlahan. “Ini sudah nyaris maghrib, Abe. Marilah kita masuk ke dalam rumah. Orang hamil sepertimu seharusnya tak boleh berlama-lama duduk di luar rumah. Namanya pamali,” ucap Wa Kalambe. “Tapi, aku masih menunggu kedatangan suamiku sore ini, Wa Mbe,” ucap Wa Ode Sanggula bersedih. “Aku tahu, Abe. Tapi hari kini sudah semakin gelap. Mungkin saja Nak Ode belum pulang sore ini. Sebaiknya kau masuk dahulu dan menunggu besok lagi untuk menantikan kepulangannya,” ujar Wa Kalambe kemudian. La Ode Pakainke Ke yang Tak Segera Pulang “Namun ini sudah lewat satu minggu dari waktu yang sudah dijanjikan, Wa Mbe. Dan suamiku masih belum pulang juga. Aku jadi merasa sangat cemas karena memikirkannya. Kira-kira apakah gerangan penyebab keterlambatannya?” Wa Ode Sanggula masih saja belum bergerak dari tempat duduknya. “Mungkin saja urusan Nak Ode tak bisa diselesaikan dengan cepat sehingga kepulangannya terpaksa harus ditunda. Jangan terlalu berpikiran buruk. Lebih baik kita masuk ke dalam!” ucap Wa Kalambe terus membujuk. Meskipun awalnya Wa Ode Sanggula berkeras tak ingin masuk ke dalam rumah sampai suaminya pulang, tapi pada akhirnya ia pun berdiri dari tempat duduknya. Seraya memegang pinggulnya yang pegal akibat duduk terlalu lama, ia pun berjalan masuk ke dalam rumah dengan didampingi oleh Wa Kalambe. Ketika malam semakin larut, suasana rumah pun menjadi semakin sunyi. Lampu rumah tersebut sudah dimatikan semua oleh Wa Kalambe, kecuali lampu dari kamar Wa Ode Sanggula. Hal itu menunjukkan bahwa penghuni kamar itu masih terjaga. Dan benar saja, di atas pembaringan empuk yang dilapisi kain beludru berwarna merah, Wa Ode Sanggula masih saja belum tidur. Ia hanya mengubah-ubah posisi tidur saja seperti tengah merisaukan sesuatu. Ada banyak dugaan yang berkecamuk di dalam pikirannya. “Suamiku, apa yang sebenarnya tengah terjadi padamu? Kenapa kau masih belum pulang juga hingga sekarang?” bisiknya nyaris menangis. “Tuhan, kumohon lindungilah suamiku. Berikanlah ia kekuatan agar bisa kembali dengan selamat,” ucapnya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Setelah menangis dan khawatir semalaman, Wa Ode Sanggula baru bisa terlelap ketika menjelang dini hari. Baca juga Dongeng La Sirimbone dari Sulawesi Tenggara dan Ulasannya, Lika Liku Kehidupan Anak yang Ditinggalkan Keluarga Pecah Ketuban Wa Ode Sanggula Ketika hari sudah menjelang siang, Wa Kalambe mengetuk pintu kamar yang membangunkan Wa Ode Sanggula dari mimpinya. “Abe Sanggula! Hari sudah siang, bangunlah!” ucap Wa Kalambe di antara ketukannya di pintu dengan nada khawatir, “Apakah Abe baik-baik saja?” “Aku tidak apa-apa, Wa Mbe. Masuklah, aku sudah bangun,” jawab Wa Ode Sanggula masih dengan nada lemas. Setelah Wa Kalambe masuk, wajahnya semakin terlihat khawatir ketika melihat Wa Ode Sanggula masih terbaring di tempat tidur. “Apakah kamu sakit, Abe?” tanya Wa Kalambe cemas seraya berjalan mendekati pembaringan. Ia pun langsung memegang kening Wa Ode Sanggula untuk mengecek kondisinya. “Aku hanya merasa sedikit pusing, Wa Mbe. Semalam aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku masih memikirkan kepergian suamiku yang belum ada kabarnya hingga sekarang.” “Sekarang Abe tak perlu lagi merasa cemas. Tadi pagi kusir La Ponta-Ponta datang untuk memberi kabar kalau kapal Nak Ode sudah berlabuh. Sebentar lagi suamimu pasti akan pulang ke rumah.” Mendengar hal itu, Wa Ode Sanggula pun langsung terlihat sumringah dan bersemangat. Tanpa menunggu lama ia langsung bangun dari pembaringannya. Namun, karena ia terlalu tergesa-gesa, tanpa sadar kaki kirinya tersangkut ujung kain hingga ia terguling dari tempat tidur. Wa Kalambe yang tak menduga kejadian itu pun langsung panik. Kejadian itu langsung membuat air ketuban Wa Ode Sanggula pecah. Pertanda bahwa tak lama lagi ia akan melahirkan bayinya. Hal itu tentu saja membuat Wa Kalambe menjadi semakin panik. Kelahiran Putri Satarina Di waktu yang bersamaan, terdengar suara salam dari depan pintu yang menunjukkan bahwa La Ode Pakainke Ke telah pulang ke rumah. Ketika melihat kondisi istrinya yang kesakitan, pria tu langsung ikut panik dan menanyakan apa yang bisa ia bantu. Tanpa menunggu lama, Wa Kalambe menyarankan La Ode Pakainke Ke untuk bergegas keluar kamar dan menyuruh pengurus kuda untuk menjemput dukun beranak. Untungnya, dukun beranak itu bisa dipanggil dengan cepat dan Wa Ode Sanggula bisa melahirkan bayi perempuannya dengan selamat. Bayi perempuan yang berparas cantik jelita dan berkulit putih bagai salju nan elok itu pun diberi nama Putri Satarina yang berarti anak perempuan yang berwajah bagai purnama. Kehadiran sang putri tentunya membawa kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Apalagi usaha perniagaan La Ode Pakainke Ke menjadi sembakin lancar. Namun sayang, ketika usia sang putri baru tiga belas bulan, sang ibunda terkena penyakit yang sangat parah. Semua tabib yang telah didatangkan dari sepenjuru negeri tetap saja tak bisa menyembuhkan penyakitnya. Hari demi hari penyakitnya menjadi semakin parah hingga membuat La Ode Pakainke Ke khawatir. Wa Ode Sanggula yang menyadari bahwa tak ada seorang pun tabib yang bisa menyembuhkannya kemudian berpesan pada suaminya untuk selalu menjaga dan merawat buah hatinya dengan baik. Tak lama setelah berpesan, Wa Ode Sanggula menghembuskan napas terakhirnya. Baca juga Kisah Terbentuknya Pulau Nusa dari Kalimantan Tengah dan Ulasannya, Kecerobohan Manusia yang Berakhir Tragis La Ode Pakainke Ke Menikah Lagi Tiga tahun setelah kepergian Wa Ode Sanggula, Putri Satarina tumbuh menjadi anak yang jelita. Bahkan meskipun usianya baru empat tahun, kecantikannya sudah bisa terlihat dengan jelas. Kulitnya terlihat putih bagai salju dan matanya bersinar bagaikan bintang kejora. Bahkan, hidung dan bibirnya tampak sempurna yang semakin menambah keayuan wajahnya. Suatu hari, La Ode Pakainke Ke berpikiran untuk kembali menikah. Karena bagaimanapun juga, ia merasa tak sanggup mengurus buah hatinya sendirian. Apalagi, Wa Kalambe yang pernah menjadi inang pengasuh sang gadis telah berpulang juga ke Rahmatullah tak lama setelah kepergian Wa Ode Sanggula. Belum lagi, La Ode Pakainke Ke harus sering bepergian untuk melakukan usaha perniagaannya. Tak mungkin ia membawa Putri Satarina berlayar bersamanya atau bahkan meninggalkannya sendirian di rumah. Oleh karena itu, setelah berpikir matang-matang, akhirnya La Ode Pakainke Ke memutuskan untuk menikah seorang wanita biasa bernama Wa Muri. Dibandingkan istrinya terdahulu, Wa Muri tidaklah berparas cantik. Namun, hal itu bukanlah sebuah masalah bagi La Ode Pakainke Ke. Karena yang terpenting baginya adalah ada orang yang bisa mengurus dan merawat putrinya. Sebelum mereka resmi menikah, La Ode Pakainke Ke meminta janji Wa Muri untuk menganggap Putri Satarina seperti anak kandungnya sendiri dan memperlakukannya dengan baik. Wa Muri pun menyanggupi permintaan itu. Sehingga La Ode Pakainke Ke akhirnya tak lagi ragu untuk memilihnya. Kebaikan Palsu Wa Muri Setelah menikah, Wa Muri tinggal bersama di rumah suami dan anak tirinya. Awalnya, sesuai janjinya pada La Ode Pakainke Ke, Wa Muri memperlakukan Putri Satarina seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan, La Ode Pakainke Ke sampai merasa beruntung dan bersyukur karena memiliki istri yang penyayang dan adil. La Ode Pakainke Ke tak lagi merasa ragu dan cemas jika harus meninggalkan putrinya untuk berdagang. Ia bisa yakin meninggalkan putrinya di bawah asuhan istri keduanya selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Ia sangat yakin putrinya akan selalu bahagia meskipun hanya ditemani ibu tiri yang menyayanginya. Namun, siapa sangka kalau rupanya kebaikan hati dan kasih sayang Wa Muri itu semua hanyalah kebohongan semata. Di balik sikap dan senyum manis yang ia perlihatkan itu, rupanya ada rencana licik yang hanya ia ketahui sendiri. Tak lama setelah pernikahan itu, Wa Muri hamil kemudian melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Katarina. Kehadiran Katarina itu semakin memunculkan sikap buruk Wa Muri, khususnya ketika La Ode Pakainke Ke tengah tidak berada di rumah. Ia sering kali membeda-bedakan kedua anaknya. Bahkan, ia mulai tak lagi mempedulikan Putri Satarina dan hanya mengurus Katarina saja. Baca juga Dongeng Ikan Mas Ajaib dan Pohon Emas Beserta Ulasannya, Pengingat Agar Selalu Tulus Melakukan Segala Hal Perubahan Perilaku Wa Muri Pada Putrinya Seiring dengan berjalannya waktu, perbedaan Putri Satarina dan Katarina semakin terlihat jelas. Tak hanya secara fisik saja, tapi perangai Katarina pun jauh lebih buruk dibandingkan Putri Satarina. Karena terlalu dimanjakan, Katarina tumbuh menjadi gadis yang egois, seenaknya sendiri, dan berkemauan keras. Ia tak pernah mau mengalah dan tak ada yang bisa menentang kemauannya. Sementara Putri Satarina tumbuh menjadi gadis yang sabar dan selalu mengalah. Kecantikan dan kebaikan hati Putri Satarina menjadikannya banyak disukai oleh orang-orang di sekelilingnya, khusunya kaum laki-laki. Dan hal itu menjadikan sang ibu tiri dan adiknya menjadi semakin membenci Putri Satarina. Bahkan, kini gadis berhati bersih itu sampai diperlakukan seperti layaknya pembantu. Setiap hari Putri Satarina diwajibkan untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Kalau ada pekerjaan yang dianggap kurang beres, Wa Muri tak ragu-ragu memukul dan mencacinya. Bahkan, kalau Putri Satarina tak mendengar panggilan sang ibu tiri, Wa Muri juga akan langsung membentak dan menjewer telinga sang gadis tanpa ampun. Hal itu pada akhirnya membuat Putri Satarina sedih. Sering kali, ia hanya bisa menundukkan kepala seraya berkaca-kaca. Apalagi jika Wa Muri sampai mengucapkan kalau Putri Satarina adalah pembawa sial dan membuat ibundanya meninggal dunia. Putri Satarina sampai bertanya-tanya apakah benar ia yang membawa sial bagi keluarganya. Apakah benar ia yang menyebabkan ibundanya meninggal dunia? Karena seingatnya, dahulu inang pengasuhnya menceritakan kalau ibunya meninggal dunia karena terserang penyakit menular yang ganas dan tak ada seorang tabib pun yang bisa menyembuhkan. Sayangnya, saat itu Le Ode Pakainke Ke tengah berlayar jauh. Sehingga hal itu membuat ibu dan adik tirinya bisa melakukan perbuatan semena-mena kepada dirinya. Meskipun begitu, Putri Satarina berusaha untuk tetap berserah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa agar selalu diberikan kekuatan. Pesta Pernikahan Putri Satarina Ketika Putri Satarina berusia 17 tahun, gadis itu bagaikan kembang desa yang selalu memancarkan kecantikan dan keharuman dari dalam dirinya. Banyak pria yang datang dan hendak meminangnya untuk dijadikan istri. Di antara para pemuda itu, hanya ada satu yang menarik perhatian sang putri, yakni pemuda dari negeri seberang. Sang pemuda berparas tampan dan memiliki tutur kata dan perangai yang mengesankan banyak orang. Pemuda bernama La Ode Badawi Garangani itu merupakan anak dari saudagar kaya teman ayahnya. Akhirnya, setelah melalui pembicaraan dari kedua belah pihal, Putri Satarina pun menikah dengan La Ode Badawi Garangani. Pesta pernikahan itu diadakan dengan sangat meriah. Putri Satarina bagaikan Putri Bulan yang dipersunting oleh Pangeran Matahari. Semua orang yang menyaksikan pernikahan itu turut berbahagia dan terharu, kecuali Wa Muri dan Katarina. Mereka berdua justru merasa iri dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Putri Satarina. Berbagai rencana buruk langsung muncul di kepala sang ibu tiri. Ia bertekad untuk menyingkirkan sang putri entah bagaimana caranya. Karena ia menganggap kalau Putri Satarina adalah penghalang kebahagiaan putri kandungnya. Tak berapa lama setelah pesta pernikahan itu berakhir, Putri Satarina mengandung dan sembilan bulan kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Bayi yang mirip dengan ayahnya itu kemudian diberi nama La Ode Pasanifu, di mana Pasanifu memiliki arti pemersatu. Harapannya, buah hati mereka bisa menyatukan hati kedua orang tuanya dan orang-orang di sekitar mereka. Baca juga Kisah tentang Si Kelingking Asal Jambi dan Ulasan Lengkapnya, Pelajaran untuk Tidak Meremehkan Penampilan Fisik Seseorang Kepergian Putri Satarina Pada suatu hari, La Ode Badawi Garangani harus pergi ke kampung seberang karena mendapat kabar bahwa ayah kandungnya menderita sakit. Karena saat itu La Ode Pasanifu masih terlalu kecil, Putri Satarina tak bisa ikut suaminya dan harus tinggal di rumah untuk mengurus buah hatinya. Ketika La Ode Badawi Garangani berangkat, Wa Muri dan Katarina merasa itu adalah kesempatan yang sempurna untuk melenyapkan Putri Satarina dan menggantikan posisinya. Tanpa menunggu lama Katarina berpura-pura menawarkan diri untuk menjaga La Ode Pasanifu, sementara Wa Muri mengajak Putri Satarina ke sungai. Alasannya mengajak mandi untuk membuang nasib sial setelah tujuh hari kelahiran bayinya. Meskipun awalnya sang putri merasa ragu, tapi karena Wa Muri terus mendesaknya, ia pun terpaksa mengikuti perkataan ibu tirinya itu. Namun, belum sampai ke sungai, mendadak hujan turun dengan derasnya. Hal itu tentunya membuat Putri Satarina semakin merasa ragu, tapi Wa Muri terus memaksanya untuk mempercepat langkahnya. Ketika mereka sampai di tepi sungai, hujan turun semakin deras. Tapi tetap saja Wa Muri memaksa agar Putri Satarina masuk ke dalam air. Tak lama ketika sang putri baru berendam, mendadak banjir besar datang. Meskipun sang putri sudah berusaha berenang secepat mungkin untuk naik ke darat. Namun, dengan sigap sang ibu tiri kembali mendorongnya masuk ke dalm sungai. Naas, sang putri pada akhirnya terbawa arus sungai yang deras. Setelah yakin kalau Putri Satarina tak akan selamat, Wa Muri yang kejam bergegas pulang ke rumah dan menerobos hujan. Sampai di rumah, ia menyuruh Katarina menutup semua jendela kamar sehingga suasana di dalam kamar menjadi gelap gulita. Wa Muri pun menyuruh putri kandungnya untuk menyamar sebagai Putri Satarina dan tak diperbolehkan membuka jendela atau keluar kamar. Bahkan, mereka sampai membohongi La Ode Badawi Garangani dengan berkata bahwa istrinya terkena penyakit mata sehingga tak boleh keluar kamar atau melihat matahari. Tujuh Bidadari Penyelamat Sementara itu, Putri Satarina yang hanyut terbawa banjir rupanya terdampar di pinggir Sungai Lakambolo di daerah Si Keli. Tak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah lubuk berair jernih yang sering digunakan pada bidadari untuk mandi dan bercengkerama bersama. Begitu pula saat itu, seperti biasanya para bidadari mandi, bermain, dan bercanda di dalam air. Mendadak, salah satu bidadari yang mengenakan pakaian berwarna merah muda menemukan sesosok tubuh tergeletak tak jauh dari pohon di tepi sungai. Ia pun langsung memanggil keenam temannya. Melihat kecantikan Putri Satarina, mereka pun merasa kasihan dan memutuskan untuk membawa gadis itu ke kahyangan agar bisa dihidupkan kembali. Namun, rupanya ketika Bunda Ratu, ibunda dari para bidadari mengetahui hal itu, beliau langsung marah. Karena keberadaan seorang manusia bisa mengotori negeri kahyangan, apalagi kalau ternyata mereka tak bisa menyelamatkan nyawa Putri Satarina. Seandainya mereka berhasil menyelamatkan sang putri sekalipun, pada akhirnya Putri Satarina tak akan bisa kemali ke bumi dan harus menjadi penghuni kahyangan selamanya. Namun, para bidadari itu merasa kasihan karena mereka yakin manusia yang diselamatkan itu adalah orang yang baik dan suci dari segala perbuatan buruk. Melihat ketulusan para bidadari yang ingin menyelamatkan manusia itu, Bunda Ratu pun meminta mereka untuk mengumpulkan kembang tujuh rupa, selendang tujung warna, dan air suci yang diisikan ke dalam tujuh kendi kahyangan. Semua benda itu harus disiapkan sebelum matahari terbit. Baca juga Legenda Asal Usul Danau Malawen dan Ulasannya, Sebuah Imbauan untuk Mendengarkan Nasihat Kedua Orang Tua Putri Satarina Menjadi Bidadari Tanpa menunggu lama, para bidadari itu menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Dengan dipimpin Bunda Ratu, mereka pun menutupi tubuh Putri Satarina dengan selendang tujuh warna, dengan selendang yang berwarna putih diletakkan paling atas. Sesudahnya, kembang tujuh rupa ditaburkan di atas tubuh sang putri dari ujung kepala sampai ke kaki. Kemudian Bunda Ratu mengambil tujuh kendi kecil berisi air suci dan memercikkannya di atas tubuh sang putri satu persatu. Tak lupa Bunda Ratu juga terus membacakan mantra, dan mengayunkan tongkatnya di atas Putri Satarina yang kemudian mengeluarkan sinar kuning. Ajaibnya, setelah sinar kuning tersebut masuk ke dalam kepala sang putri yang masih tertutup selendang. Setelah cahaya itu menghilang, Seluruh kain dan kembang tujuh rupa yang menutupi tubuh Putri Satarina pun raib juga. Tak lama kemudian, sang putri terbatuk dan membuka matanya secara perlahan. Betapa bingungnya Putri Satarina yang terbangun dan kelilingi para bidadari dan Bunda Ratu yang cantik jelita. Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan tentang hidupnya, Putri Satarina diizinkan untuk tinggal di kahyangan hingga tubuhnya kembali sembuh. Sayangnya, setelah tubuhnya sembuh sekalipun, ia tetap tak bisa kembali lagi ke bumi. Apalagi, tak lama kemudian Putri Satarina memiliki sepasang sayap seperti halnya bidadari lainnya. Sehingga sejak saat itu, para bidadari mulai sering mengajak Putri Satarina untuk bermain di balik awan hingga malam tiba. Mimpi Tangisan Bayi Pada suatu malam, setelah kembali dari balik awan, Putri Satarina langsung masuk ke dalam biliknya dan berbaring tanpa sempat berganti pakaian. Entah kenapa saat itu ia merasa sangat lelah hingga langsung terlelap begitu saja. Di dalam tidurnya, ia mendengar suara tangis bayi yang tak berhenti-henti. Bahkan, rasanya seolah tangisan itu menjadi semakin nyaring dan memanggil dirinya. Ketika terbangun, Putri Satarina mendapati dirinya berada di sebuah taman yang indah dan penuh bunga tapi terasa asing. Saat tengah menikmati keindahan bunga warna-warni yang ada di sekitarnya, mendadak ia kembali mendengar suara tangisan bayi yang nyaring. Namun, ia tak bisa mencari sumber suara tangisan itu, karena ia merasa seolah suara itu seakan berasal dari seluruh penjuru. Setelah menghentikan langkah kakinya dan berusaha untuk fokus, ia baru menyadari kalau suara itu berasal dari tempat yang sangat jauh. Putri Satarina pun langsung bertanya-tanya kenapa suaranya terdengar begitu dekat. Ia pun kemudian berusaha mengikuti suara hatinya dan melangkah mendekati sumber suara itu. Namun, belum sampai ia mendekati suara itu, Putri Satarina merasakan ada yang memanggil-manggil namanya seraya menepuk pipinya. Ia pun kemudian membuka matanya dan mendapati tujuh orang bidadari telah berada di sampingnya. Ketika ditanya apa yang terjadi padanya, Putri Satarina justru menangis dan berusaha mencari bayi yang tengah menangis. Mendengar jawaban tersebut, tujuh bidadari hanya bisa saling memandang dan menenangkan sang putri karena di kahyangan tidak ada bayi satu pun. Akhirnya, Putri Satarina berhasil menenangkan diri dan berusaha kembali tidur. Baca juga Kisah Abu Nawas tentang Pesan Bagi Para Hakim dan Ulasan Menariknya, Pelajaran untuk Selalu Profesional dalam Bekerja Pulang ke Bumi Namun, sejak peristiwa mimpi tangisan bayi itu, Putri Satarina tak lagi terlihat ceria seperti sebelumnya. Ia bahkan lebih sering merenung sendirian jauh dari para bidadari yang lain. Karena merasa khawatir, para bidadari pun menanyakan apa yang membuat sang putri termenung dan bersedih. Putri Satarina kemudian meminta para bidadari untuk menolongnya kembali ke bumi. Ia menyatakan bahwa belakangan ini ia merasa rindu pada bumi dan ingin kembali meskipun hanya sesaat. Ia juga berjanji bahwa sesudahnya ia akan kembali lagi ke kahyangan. Berkat janji itu, para bidadari pun bersedia membantunya ketika malam bulan purnama tiba. Dan benar saja, beberapa malam kemudian ketika langit malam dihiasi bulan purnama, mereka turun ke bumi dan mandi di Sungai Lakambolo. Di sana, mereka mandi, bermain, dan bercanda riang bersama. Setelah selesai mandi, Putri Satarina meminta izin untuk menjenguk dan menyusui anaknya sebentar. Para bidadari yang tidak mengetahui kalau sang putri memiliki seorang anak pun terkejut. Putri Satarina pun akhirnya menceritakan tentang buah hatinya yang terpaksa harus ia tinggalkan karena pergi ke kahyangan. Karena merasa iba, pada bidadari pun mengizinkan Putri Satarina untuk menjenguk suami dan anaknya. Namun, mereka juga mengingatkan sang putri bahwa ia kini telah menjadi penghuni abadi kahyangan. Oleh karena itu, ia tak bisa berlama-lama berada di bumi dan harus kembali ke kahyangan sebelum matahari terbit. Putri Satarina pun berjanji. Bertemu dan Menyusui Buah Hati Tercinta Namun, siapa sangka ketika akhirnya kembali bertemu dengan buah hatinya, Putri Satarina terlupa akan janjinya pada para bidadari. Ia terlalu asyik menggendong dan menciumi buah hatinya dengan penuh kerinduan. Ia juga menyusui anaknya dan terus mendekapnya seolah tak ingin berpisah lagi. Para bidadari yang menanti di tepi sungai menjelang dini hari pun mulai merasa gelisah. Mereka akhirnya setuju untuk menjemput sang putri agar bisa segera kembali ke kahyangan. Sesampainya mereka di rumah Putri Satarina, sang putri masih saja menyusui buah hatinya. Karena mereka tak berani masuk ke dalam rumah, para bidadari itu pun menyanyi untuk memanggil Putri Satarina. Ketika mendengar nyanyian itu, sang putri tersadar bahwa waktunya sudah nyaris habis. Untungnya mereka masih tepat waktu untuk kembali ke kahyangan sebelum matahari terbit. Para bidadari pun menjanjikan pada sang putri bahwa pada bulan purnama selanjutnya, mereka akan kembali turun ke bumi untuk mandi. Dengan begitu, setelah mandi Putri Satarina bisa kembali menyusui buah hatinya. Betapa bahagianya sang putri ketika mendengar hal itu. Ia pun akhirnya setuju dan tak sabar menanti kedatangan bulan purnama selanjutnya. Di sisi lain, siapa sangka rupanya nyanyian para bidadari itu didengarkan oleh sepasang suami istri tetangga La Ode Badawi Garangani. Ketika matahari sudah tinggi, mereka pun menemui tetangganya itu dan menceritakan tentang suara nyanyian yang mereka dengarkan semalam. Mendengar cerita itu, La Ode Badawi Garangani mulai berniat menyelidikinya. Kembali Berkumpul Bersama Keluarga Pada bulan purnama berikutnya, seperti biasa para bidadari dan Putri Satarina turun ke bumi dan mandi Sungai Lakambolo. Dan seperti sebelumnya, setelah mandi Puri Satarina kembali pulang ke rumahnya untuk menyusui buah hatinya. Sama seperti sebelumnya, para bidadari pun harus bernyanyi untuk mengingatkan sang putri untuk kembali ke kahyangan. Saat itu, La Ode Badawi Garangani yang tengah bersembunyi pun langsung keluar dari persembunyiannya dan memeluk istri yang ia rindukan. Bahkan, ia langsung memeluk istrinya itu dan mematangkan sayap di punggungnya. Betapa terkejutnya Putri Satarina mendapatkan pelukan itu. Meskipun begitu, ia langsung balik memeluk dan menangis di bahu suaminya saling melepas rindu. La Ode Badawi Garangani meminta istrinya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Dan sesuai permintaan, ia pun menceritakan segalanya, termasuk tentang hidupnya selama di kahyangan. Di tengah cerita itu, para bidadari kembali memanggil Putri Satarina dan memintanya kembali ke kahyangan. Sang putri pun kemudian memohon izin untuk bisa kembali ke kahyangan menyusul tujuh bidadari. Namun, karena sayapnya sudah tak ada, ia tak bisa kembali terbang. Putri Satarina pun menjadi bingung mengapa ia tak bisa terbang kembali di kahyangan. Suaminya kemudian menenangkannya dan memintanya untuk tetap tinggal di rumah. Bahkan, ia sampai menyeret Katarina dan Wa Muri keluar, memasukkan mereka ke lubang kayu dan menggulingkan kayu itu ke jurang sangat dalam. Tak ada seorang pun yang bisa menolong mereka dan berakhirlah hidup ibu dan anak itu. Sementara itu, Putri Satarina akhirnya bisa kembali berkumpul dengan suami dan anaknya dengan penuh kasih sayang. Hingga akhir hidupnya, keluarga itu tak pernah lagi merasakan kesusahan atau penderitaan. Konon, anak cucu dari sang putri berkembang semakin banyak dan menjadi penduduk asli Pulau Buton. Baca juga Cerita Rakyat Ular Kepala Tujuh dari Bengkulu & Ulasan Menariknya, Bukti Kerendahan Hati dan Keberanian Bisa Mengalahkan Kekejian Unsur Intrinsik Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari Sumber Putri Satarina dan Tujuh Bidadari – Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta Setelah membaca cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang berasal dari Buton Utara, Sulawesi Tenggara di atas, kini kamu bisa mengetahui sedikit ulasan seputar unsur intrinsiknya. Di antaranya adalah 1. Tema Inti kisah atau tema dari cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini adalah tentang ketulusan dan kebaikan hati akan memberikan kebaikan dalam hidupmu. Contohnya adalah seperti yang dilakukan oleh Putri Satarina. Karena kebaikan hatinya, akhirnya ia pun mendapatkan bantuan dari para bidadari untuk kembali dihidupkan. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada beberapa tokoh utama dalam cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini. Di antaranya adalah La Ode Pakainke Ke, Wa Ode Sanggula, Wa Kalambe, Putri Satarina, Wa Muri, Katarina, La Ode Badawi Garangani, Tujuh Bidadari, dan Bunda Ratu. La Ode Pakainke Ke merupakan seorang ayah dan suami yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Ia akan melakukan apa pun dan pergi jauh demi kemakmuran keluarganya. Ia juga sangat menyayangi keluarganya dan rela melakukan apa pun demi istri tercinta dan buah hatinya. Sementara Wa Ode Sanggula adalah wanita rupawan yang baik hatinya dan sangat menyayangi keluarganya. Karena begitu menyayangi suaminya, ia bahkan sampai rela menunggu kepulangan sang suami dari berlayar hingga langit gelap. Wa Kalambe merupakan inang pengasuh La Ode Pakainke Ke dan Wa Ode Sanggula yang tulus menjaga majikannya. Ia juga begitu menyayangi putri kedua majikannya itu dan turut serta mendidik bahkan setelah kematian Wa Ode Sanggula. Sayang, umurnya sendiri juga tak lama. Putri Satarina adalah gadis cantik yang memiliki sifat tulus, baik hati, sabar, dan selalu mengalah pada adiknya. Bahkan setelah mengetahui kalau ia dimanfaatkan oleh adik dan ibu tirinya sekalipun, tetap saja fokus utamanya adalah putranya sendiri, bukan balas dendam. Wa Muri adalah ibu tiri Putri Satarina yang memiliki sifat culas dan licik. Ia sering berpura-pura baik pada semua orang kecuali anak tirinya sendiri. Bahkan, ia sampai berpikiran untuk membunuh anak tirinya agar anak kandungnya bisa menjadi istri La Ode Badawi Garangani. Katarina merupakan putri dari Wa Muri dan La Ode Pakainke Ke yang memiliki sifat dan paras buruk. Karena terlalu dimanjakan, ia menjadi gadis yang iri, egois, seenaknya sendiri, dan berkemauan keras. Bahkan, ia tak ragu memanfaatkan kakaknya sendiri. La Ode Badawi Garangani adalah suami yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi istri juga anaknya. Ia juga langsung bergerak cepat ketika mendapat kabar dari tetangganya tentang istrinya. Demi istrinya itu, ia rela melakukan apa pun, termasuk menyingkirkan ibu mertua dan adik iparnya yang licik sekalipun. Tujuh Bidadari dan Bunda Ratu adalah makhluk kahyangan yang baik hatinya. Mereka menolong dan menyelamatkan Putri Satarina dari akhir hidupnya kemudian mengangkatnya menjadi salah satu bidadari di kahyangan. 3. Latar Latar lokasi yang banyak disebutkan dalam cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini adalah sebuah desa di Sulawesi Tenggara yang banyak dihuni orang suku Wolio, Sungai Lakambolo tempat Putri Satarina dihanyutkan oleh ibu tirinya, dan kahyangan tempat tinggal para bidadari bersama Bunda Ratu. 4. Alur Alur yang digunakan dalam cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini adalah maju atau progresif. Kisahnya diceritakan secara runut dan berkesinambungan satu sama lain. Dimulai dari La Ode Pakainke Ke dan Wa Ode Sanggula yang tengah menanti kelahiran putrinya, Putri Satarina. Sayang, tak lama setelah melahirkan sang putri, Wa Ode Sanggula harus berpulang ke Yang Maha Esa karena penyakit. Karena merasa kasihan pada anaknya yang tak memiliki pengasuh, La Ode Pakainke Ke pun memutuskan untuk menikah dengan Wa Muri. Sayang, Wa Muri justru tak menyayangi Putri Satarina dengan baik. Bahkan, setelah memiliki putri sendiri yang bernama Katarina, Wa Muri justru tak mempedulikan anak tirinya itu lagi. Apalagi setelah Putri Satarina akhirnya menikah dengan La Ode Badawi Garangani yang rupawan, sifat iri hati Wa Muri membuatnya memutuskan untuk mengakali putri tirinya itu. Putri Satarina pun hanyut di sungai Lakambolo akibat keculasan Wa Muri. Untungnya, sang putri ditemukan dan diselamatkan oleh tujuh Bidadari yang baik hati. Namun, Putri Satarina kini harus menjadi bidadari juga dan tak bisa kembali ke bumi. Kerinduannya pada buah hatinya, La Ode Pasanifu, membuat Putri Satarina meminta diizinkan kembali ke bumi agar bisa menyusui putranya. Setelah beberapa kali menyusui putranya, Putri Satarina akhirnya kembali bertemu dengan suaminya dan tak perlu kembali lagi ke kahyangan. 5. Pesan Moral Pesan moral yang bisa didapatkan dari cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang satu ini adalah untuk selalu melakukan kebaikan bahkan meskipun orang lain berbuat jahat padamu sekalipun. Yakinlah kalau alam semesta pasti akan membalas kebaikan yang kamu lakukan dengan tulus itu. Seperti halnya Putri Satarina yang terus bersabar meskipun dijahati oleh ibu tiri dan adiknya sekalipun. Sehingga ketika akhirnya ia dihanyutkan ke sungai dan meninggal dunia, para bidadari pun berusaha untuk menolongnya. Selain unsur intrinsik, cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini juga mengandung unsur ekstrinsik yang bisa melengkapi kisahnya. Di antaranya adalah nilai-nilai sosial, budaya, agama, dan moral yang berlaku di daerah Sulawesi Tenggara. Baca juga Dongeng Burung Tempua dan Burung Puyuh Beserta Ulasannya, Pengingat Bahwa Tiap Orang Punya Selera Berbeda Fakta Menarik tentang Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari Sumber Wikimedia Commons Ingin tahu apa lagi yang bisa kamu dapatkan dari artikel cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari yang satu ini? Di sini kamu juga bisa mendapatkan beberapa fakta menarik seputar kisahnya, yaitu 1. Kebudayaan Suku Wolio Cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari ini berpusat pada sebuah wilayah di Sulawesi Tenggara yang banyak dihuni oleh Suku Wolio, bertetangga dengan Suku Tolaki. Wilayah tersebut termasuk Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kolaka, Bau-Bau, Pulau Buton, Muna, dan Kabaena. Oleh karena itu, tak ada salahnya jika kamu mengetahui sedikit seputar suku tersebut dan seperti apa penerapannya dalam kisah ini. Salah satunya adalah tentang pernikahan Suku Wolio yang memiliki aturan bahwa pengantin pria harus ikut tinggal di rumah pengantin perempuan. Bisa dilihat di dalam cerita bahwa La Ode Badawi Garangani pun setelah menikah akhirnya tinggal bersama keluarga istrinya. Kemudian juga terkait kewajiban pria dalam mencari nafkah, sementara perempuan hanya bertugas mengurus seluruh keperluan rumah tangga. Sama seperti La Ode Badawi Garangani dan La Ode Pakainke Ke yang rajin bekerja dan membiarkan istri mereka tinggal di rumah. Baca juga Legenda Oheo dari Sulawesi Tenggara dan Beserta Ulasannya, Kisah Pemuda yang Mencuri Selendang Bidadari Khayangan Cerita Rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari Demikianlah ulasan cerita rakyat Putri Satarina dan Tujuh Bidadari dari Sulawesi Tenggara yang telah kami rangkum. Dapatkah kamu mengambil pesan positif dari kisahnya? Semoga saja kamu bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari kemudian mengajarkannya pada buah hati tersayang, ya. Kalau masih ingin mencari cerita rakyat lainnya yang tak kalah menariknya, cek saja artikel-artikel lain di PosKata. Di sini kamu bisa mendapatkan Dongeng Kancil dan Kura-Kura, Cerita Rakyat Bawi Kuwu dari Kalimantan Tengah, atau Kisah Datuk Darah Putih dari Jambi. PenulisRizki AdindaRizki Adinda, adalah seorang penulis yang lebih banyak menulis kisah fiksi daripada non fiksi. Seorang lulusan Universitas Diponegoro yang banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, menonton film, ngebucin Draco Malfoy, atau mendengarkan Mamamoo. Sebelumnya, perempuan yang mengklaim dirinya sebagai seorang Slytherin garis keras ini pernah bekerja sebagai seorang guru Bahasa Inggris untuk anak berusia dua sampai tujuh tahun dan sangat mencintai dunia anak-anak hingga sekarang. EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.
Makassar - Salah satu cerita rakyat Sulawesi Tenggara yang cukup populer adalah cerita tentang asal-usul Gunung Mekongga. Cerita rakyat ini masih hidup dan dipercaya di kalangan masyarakat secara Mekongga adalah sebuah gunung tertinggi yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara. Bahkan gunung ini pun termasuk ke dalam 7 gunung tertinggi yang ada di Pulau yang terletak di Kabupaten Kotala ini kerap menjadi incaran para pendaki dari berbagai daerah. Puncak tertingginya bernama puncak Masero-sero dengan ketinggian mencapai 2,620 mdpl. Di balik kokohnya Gunung Mekongga ini, terdapat cerita rakyat yang dipercaya sebagai asal-muasal tempat tersebut. Yakni legenda tentang seekor burung elang raksasa yang bernama seperti apa cerita rakyat tentang asal-usul Gunung Mekongga yang merupakan salah satu cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara? Berikut kisah selengkapnya dirangkum detikSulsel dari laman Perpustakaan Digital Budaya pada jaman dahulu di Negeri Sorume sekarang Kolaka, Sulawesi Tenggara hiduplah seekor burung garuda raksasa bernama Burung Kongga. Burung tersebut selalu membuat kekacauan di desa ia akan terbang dan memangsa hewan-hewan ternak milik penduduk desa. Bahkan jika ia tidak menemukan hewan, ia akan menculik seorang manusia dan penduduk merasa resah dan ketakutan dibuatnya. Semakin hari ternak-ternak milik warga perlahan semakin habis itulah penduduk Sorume pun mencari cara untuk mengatasi burung Kongga di sebuah negeri seberang bernama negeri Solumba sekarang Balandete, terdengarlah kabar bahwa ada seorang sakti mandraguna. Ia bernama adalah seorang tokoh yang datang dari tanah Luwu. Ia adalah kerabat dekat Sawerigading, yang merupakan tokoh penting nenek moyang orang dikutip dari laman resmi Kabupaten Kolaka, Sawerigading hidup sekitar abad XIV. Ia adalah cucu Batara Guru yang diutus oleh para Dewata untuk turun ke dunia dan memerintah di tanah Luwu kemudian menyebar ke beberapa wilayah, termasuk Sulawesi adalah keluarga dekat Sawerigading yang kemudian berangkat ke Tanah Alau Negeri di Timur. Tana Alau adalah sebutan orang Luwu untuk wilayah Sulawesi Tenggara karena mereka melihat matahari terbit di pagi hari ke arah di Tanah Alau, Ia pun menetap dan mendirikan kerajaan di Negeri Solumba. Di mana wilayah tersebut didiami oleh masyarakat yang menyebut dirinya 'Orang Tolaki' yang berarti orang-orang para penduduk di Sorume pun lantas mengirim utusan ke Negeri Solumba untuk menemui Larumbalangi. Serta bermaksud meminta kesediaan Larumbalangi untuk membantu mengusir burung elang Raksasa di negeri Solumba, para utusan itupun kemudian menceritakan mengenai peristiwa yang menimpa negeri mereka pada Larumbalangi. Ia pun memberikan saran pada penduduk Sorume untuk menggunakan bambu runcing untuk melawan si burung Kongga raksasa."Untuk mengatasi garuda raksasa, kalian harus menggunakan strategi yang tepat. Kumpulkanlah oleh kalian bambu tua kemudian buat ujungnya menjadi runcing. Olesi juga ujungnya dengan racun. Carilah seorang pemberani di negeri kalian untuk melawan si garuda raksasa. Pagari ia dengan bambu runcing. Jadi apabila burung Kongga menyerang, ia akan tertusuk oleh bambu beracun tersebut," kata utusan pun berterima kasih atas saran tersebut. Bergegaslah mereka pulang ke Negeri Sorume untuk melaksakan wasiat bambu runcing di Sorume, para utusan menceritakan saran Larumbalangi itu kepada para para tetua ada pun segera mengadakan sayembara guna mencari laki-laki pemberani untuk melawan burung raksasa tersebut menjanjikan bahwa siapapun yang bisa melawan si Burung Kongga Raksasa, jika ia adalah seorang rakyat jelata maka akan diangkat menjadi Bangsawan. Dan jika ia dari kalangan bangsawan, maka akan diangkat menjadi pemimpin hari Sayembara tersebut diadakan, ratusan pendekar dari berbagai wilayah untuk mengikutinya. Setiap orang menunjukkan kemampuannya di depan para tetua dan sesepuh negeri setelah melalui persaingan dan pemilihan yang ketat, terpilihlah seorang pemenang yang bernama Tasahea. Ia adalah seorang rakyat biasa namun pemberani dari negeri para sesepuh kemudian meminta penduduk untuk membuat bambu runcing yang diujungnya diolesi racun. Selanjutnya bambu-bambu runcing itu pun ditancapkan di Padang kemudian dimasukkan ke dalam lingkaran yang dikelilingi bambu beracun. Ia kemudian ditinggalkan sendirian untuk memancing si burung Garuda Raksasa berjam-jam Tasahea berdiri di dalam bambu runcing, namun burung garuda raksasa belum juga kelihatan. Hingga pada saat siang hari, tiba-tiba saja cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan gelap itulah Tasahea melihat burung garuda raksasa terbang mendekatinya. Dengan suaranya yang menggelegar, burung raksasa tersebut siap menyerang dan memangsa belum sempat menyentuhnya, sayap si garuda tertusuk oleh bambu runcing beracun. Burung garuda raksasa pun mengerang ingin menyia-nyiakan kesempatan, Tasahea pun segera mengambil sebilah bambu runcing beracun yang ada di sampingnya. Dan lantas melemparkannya dan mengenai bagian dada si burung garuda semakin meronta-ronta kesakitan. Ia pun memutuskan untuk terbang menjauh dari tempat itu. Di kepakkan sayapnya lagi untuk melepaskan diri dari bambu runcing beracun segera terbang tinggi namun tak berapa lama, tubuhnya pun terjatuh tepat di atas sebuah gunung. Tak lama berselang, sang Garuda akhirnya mati terkena efek racun bambu negeri Sorume bersorak-sorak mengelu-elukan Tasahea sebagai kegembiraan rakyat tidak berlangsung lama. Bangkai burung garuda raksasa ternyata menyebarkan wabah penyakit. Banyak penduduk meninggal setelah muntah-muntah karena wabah penyakit. Begitu pula tanaman penduduk banyak mati diserang hal ini para tetua adat kembali mengirim utusan untuk menemui Larumbalangi. Sesampainya di negeri Solumba, para utusan menyampaikan permasalahan wabah yang berasal dari bangkai burung garuda Kongga kepada hal ini, Larumbalangi segera berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menurunkan hujan deras agar bangkai garuda raksasa beserta ulat-ulat terbawa mengabulkan doa Larumbalangi. Negeri Sorume dilanda hujan sangat deras selama tujuh hari tujuh malam. Akibatnya Negeri Sorume mengalami banjir hebat. Banjir hebat tersebut membawa bangkai garuda raksasa beserta ulat-ulat hanyut terbawa hujan reda & banjir surut, wabah penyakit beserta ulat yang melanda negeri Sorume akhirnya hilang. Rakyat negeri Sorume bergembira, akhirnya kedamaian bisa hadir di negeri menghargai jasa Tasahea & Larumbalangi, para tetua ada sepakat mengangkat Tasahea menjadi bangsawan. Sedangkan Larumbalangi diangkat sebagai pemimpin negeri tempat jatuhnya burung garuda raksasa tersebut pun diberi nama Gunung Mekongga. Simak Video "Dataran yang Terangkat, Kisah Puncak Khayangan Wakatobi " [GambasVideo 20detik] edr/alk
Makassar - Cerita rakyat Sulawesi Selatan Sulsel cukup banyak dan menarik untuk disimak. Cerita rakyat dari Sulawesi Selatan juga menjadi ciri khas khusus dalam budaya dan Sulawesi Selatan cerita rakyat diciptakan bertujuan dalam berbagai hal. Beberapa di antaranya bertujuan untuk penanaman nilai moral dan budaya, serta pembentukan karakter bagi generasi pewaris."Cerita Rakyat dibuat atau diciptakan bertujuan dalam berbagai hal, antara lain untuk merekam kisah atau hikayat atau peristiwa penting di masyarakat yang pernah terjadi, penanaman nilai-nilai moral dan budaya, pembentukan karakter bagi generasi pewaris, hingga pengetahuan budi pekerti kepada masyarakat," kata Budayawan Universitas Hasanuddin, Dr Firman Saleh kepada detikSulsel, Sabtu 16/4/2022. Firman mengungkapkan tokoh atau karakter dalam sebuah cerita rakyat diciptakan bukan tanpa alasan. Melainkan dengan tujuan sebagai contoh dalam penanaman nilai-nilai dalam cerita."Tokoh sebagai sumber yang disorot menjadi gambaran atas tujuan cerita rakyat dibuat guna menjadi idola sekaligus contoh dalam penanaman nilai-nilai, karakter serta budi pekerti yang digambarkan dalam cerita," 8 cerita rakyat Sulawesi Selatan beserta pesan moral yang terkandung di dalamnya yang dirangkum detikSulsel1. I Laurang Manusia UdangLegenda I Laurang Manusia Udang merupakan salah satu cerita rakyat Sulawesi Selatan yang cukup populer. Melansir cerita ini mengisahkan I Laurang, yang konon lahir dengan kondisi seperti udang. Hal itu berawal dari ibunya sangat ingin punya anak, meskipun anaknya mirip kecilnya, ibunya suka sekali menceritakan tentang raja yang memiliki tujuh orang puteri kepada I Laurang. Hal ini membuat I Laurang berkeinginan untuk menikah dengan salah seorang putri raja tersebut. Ia pun meminta orang tuanya untuk melamar salah seorang putri raja itu orang tuanya dengan rasa malu dan resah mencoba melamar putri raja sesuai keinginan dari I Laurang. Namun, dari enam dari ketujuh putri raja menolak lamaran dari I Laurang karena bentuk fisiknya. Hanya si bungsu yang bersedia untuk dipersunting oleh I Laurang pun sangat bahagia mendapat kabar itu. Ia pun keluar dari cangkang kulit udang yang selama ini membungkus dirinya. Ternyata, I Laurang memiliki paras yang sangat tampan dan gagah. Dia pun menikah dengan putri ke tujuh dari raja. Keenam putri yang menolaknya pun menyesal dan merasa iri kepada si I Laurang diutus untuk pergi berdagang, ia harus meninggalkan istrinya. Namun, I Laurang mengetahui niat jahat para saudara istrinya. Dia pun mewanti-wanti istrinya dan memberikan sebuah telur dan pinang untuk selalu dibawa. Saat para saudaranya melakukan aksi jahatnya dengan membuatnya terlempar ke laut, si bungsu tetap bisa selamat karena kedua benda yang diberikan I cerita I Laurang dan si Bungsu bertemu di lautan. Mereka pulang ke istana dengan selamat. Saat Raja mengetahui kejahatan keenam putrinya, Ia pun mengangkat si bungsu sebagai penggantinya. Sementara keenam putri lainnya menjadi pelayan pesan moral yang terkandung dari cerita rakyat Sulawesi Selatan, I Laurang Manusia Udang. Salah satunya adalah tidak menghakimi orang lain berdasarkan penampilan La Dana dan KerbaunyaLa Dana dan Kerbaunya merupakan cerita rakyat Sulawesi Selatan yang berasal dari Tana Toraja. Melansir cerita ini mengisahkan tentang seorang anak petani dari Toraja yang terkenal akan kecerdikannya bernama La kala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu kemudian menjadi suatu hari La Dana bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di Tana Toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya, mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan cerita, kerbau hidup itu dipelihara oleh teman La Dana. La Dana pun mengakali temannya dengan mengganggu nya setiap saat bertanya kapan kerbau itu akan disembelih. Temannya pun kesal dan menyuruh La dana mengambil kerbau tersebut. Alhasil, La Dana mendapatkan kerbau hidup nan gemuk dari temannya moral yang dapat dipetik dari cerita rakyat Sulawesi Selatan, La Dana dan Kerbaunya adalah tujuan akan tercapai dengan menggunakan akal dan pikiran, tapi jangan sampai merugikan orang Cerita Rakyat Sulawesi Selatan La Upe dan Ibu TiriLa Upe dan Ibu Tiri adalah cerita rakyat Sulawesi Selatan yang mengisahkan kehidupan anak yang disiksa oleh ibu sambungnya. Melansir cerita ini mengisahkan seorang anak bernama La Upe yang telah ditinggal wafat oleh ibunya. Ayahnya menikahi seorang wanita lain bernama I Ruga yang setiap harinya hanya memarahi dan memukul La tak lama akan berakhir setelah menyelamatkan satu ikan ajaib yang memberinya mantera. Mantera itu bisa diucapkan oleh La Upe untuk mengharapkan sesuatu yang dia itu terbukti ketika La Upe pulang tanpa membawa ikan satu pun. Ketika I Ruga memarahinya lagi La Upe mencoba mantera yang diajarkan ikan dan menyebutkan kalau dia ingin ibunya menjadi lengket seperti perekat. Benar saja, saat I Ruga membuka pintu, tangan dan tubuh I Ruga menempel dengan ayah La Upe pulang, Ia kaget mendapati istrinya menempel di pintu. Setelah mendengar cerita kejadiannya, ayah La Upe pun menasehati istrinya dan meminta La Upe memaafkan ibu tirinya. Mereka pun akhirnya hidup pesan moral yang terkandung pada cerita rakyat Sulawesi Selatan, La Upe dan Ibu Tiri. Salah satunya, menyusahkan orang tak ada gunanya. Jauh lebih baik bila memberi kemudahan pada sesama. Dengan demikian hidup akan dimudahkan oleh Nenek PakandeCerita rakyat Sulawesi Selatan Nenek Pakande adalah legenda yang dipercayai oleh masyarakat Soppeng. Melansir diceritakan dahulu pernah ada suatu desa yang tenteram, namun datang seorang nenek yang sebenarnya adalah seorang siluman pemakan bayi dan anak-anak warga desa tersebut hilang tak tahu kemana. Para warga curiga jika itu adalah ulah dari Nenek Pakande. Para warga juga lantas membuat rencana untuk mengusir Nenek Pakande yang dipimpin oleh pemuda yang bernama La Beddu. Para warga menakut-nakuti nenek Pakande dengan kedatangan raksasa disusun dengan matang, penjebakan Nenek Pakande itu ternyata berhasil. Nenek Pakande pun lari meninggalkan kampong. Tapi dia meninggalkan pesan akan mengawasi anak-anak kecil dari kejauhan. Legenda inilah yang melatarbelakangi kenapa anak kecil dilarang keluar pada waktu maghrib atau malam rakyat Sulawesi Selatan Nenek Pakande ini memiliki banyak pesan moral yang dapat dipetik. Diantaranya yakinlah bahwa kebaikan akan menang. Serta setiap tindakan kejahatan akan terungkap dan mendapatkan Putri TandampalikCerita rakyat Sulawesi Selatan Putri Tandampalik berasal dari tanah Luwu. Melansir dari cerita ini mengisahkan Putri Tandampalik yang merupakan putri dari Datu sebuah lamaran dari Raja Bone yang meminta Putri Tandampalik. Menurut adat, orang Luwu tidak boleh menerima pinangan dari orang lain di luar sukunya. Akan tetapi, untuk menghindari peperangan, Datu Luwu menerima pinangan tersebut dan melanggar adat tersebut. Hal ini untuk menghindari peperangan yang menyengsarakan lamaran itu justru membuat Putri mengalami penyakit kulit yang berbau. Karena penyakitnya ini, Putri Tandampalik pun diasingkan karena penyakitnya bersama pengikut setianya. Datu Luwu terpaksa mengasingkan putri karena tidak ingin penyakit tersebut menular ke warga. Sebelum pergi, Datu Luwu memberikan sebilah keris kepada putri kesayangannya Tandampalik dan pengawalnya menetap di sebuah pulau yang subur dan berhawa sejuk yang diberi nama Wajo. Mereka berusaha dan bekerja membangun kehidupan di pemukiman baru hari, Putri Tandampalik melihat seekor kerbau berwarna putih. Ketika ingin mengusirnya diusir, ternyata Kerbau itu jinak. Kemudian Putri membiarkan kerbau tersebut menjilati permukaan tubuhnya yang ternyata membuat penyakit kulitnya pulih. Kulitnya menjadi bersih dan halus suatu hari, putra mahkota Kerajaan Bone pergi berburu bersama Anre Paguru Pakkannyareng Panglima Kerajaan Bone dan beberapa pengawalnya. Ia kemudian terpisah dari rombongan. Saat berusaha mencari rombongannya, putra mahkota mendapati seorang puteri yang cantik jelita. Tak lain adalah Putri Tandampalik. Ia pun jatuh cinta dan meminang sang putri dengan mengirim pinangan itu tidak segera dijawab. Putri Tandampalik hanya menyerahkan keris pusaka pemberian Datu Luwu dan berpesan agar keris itu dibawa ke Kerajaan Luwu. Jika keris itu diterima dengan baik oleh Datu Luwu maka ia akan menerima pinangan putra Luwu akhirnya menerima pinangan tersebut. Pesta pernikahan Putri Tandampalik dengan Putra Mahkota Kerajaan Bone akhirnya digelar di rakyat Sulawesi Selatan Putri Tandampalik kaya akan pesan moral. Salah satu pesan moral yang tersirat adalah ikhlas menerima cobaan dan ujian dari Tuhan, karena cobaan tersebut tidak akan melebihi kesanggupan Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Sawerigading dan We TenriabengKisah Sawerigading dan We Tenriabeng merupakan cerita rakyat Sulawesi Selatan yang cukup popular hingga nasional. Melansir cerita ini mengisahkan tentang Sawerigading yang jatuh cinta dengan saudaranya sendiri We pada zaman dahulu kala, di daerah Luwu, hiduplah seorang Batara Lattu' yang mempunyai dua istri. Salah satu istrinya manusia biasa, dan istri lainnya berasal dari bangsa pernikahannya tersebut, Batara Lattu' dianugerahi sepasang anak kembar emas. Anak laki-lakinya diberi nama Sawerigading dan yang perempuan diberi nama We Tenriabeng. Konon, menurut ramalan, mereka berdua akan jatuh cinta. Sehingga, untuk mencegah hal itu maka dua saudara itu dibesarkan secara dewasa, hal yang ditakutkan itu justru benar-benar terjadi. Sawerigading tiba-tiba bertemu dengan We Tenriabeng dan mereka jatuh cinta. Sawerigading pun ingin menikahi adik kembarnya kedua orang tuanya tidak menyetujui hal itu. We Tenriabeng akhirnya menawarkan solusi kepada kakaknya, yaitu menikahi sepupunya, We Cudai, yang memiliki paras dan perawakan mirip dengan dirinya. Saran itu juga disetujui oleh orang tua bekal, Tenriabeng memberi Sawerigading selembar rambutnya, serta gelang dan cincin emas yang biasa dipakainya. Ketiga benda itu diberikan untuk dicocokkan kepada We Cudai sebagai bukti kemiripannya dengan We akhirnya menerima tawaran untuk mencari We Cudai di China, tepatnya di sebuah wilayah yang sekarang adalah Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulsel. Sesampainya di China cinta Sawerigading bersambut. Sawerigading terpikat melihat Cudai yang memang mirip Tenriabeng. We Cudai pun jatuh hati melihat lelaki gagah yang masih sepupunya itu. Pernikahan pun terjadi dan dari pernikahan tersebut lahir La beberapa pesan moral yang bisa diperoleh dari cerita rakyat Sulawesi Selatan Sawerigading dan We Tenriabeng. Pertama, perlunya menjaga silaturahmi dengan saudara sendiri agar terhindar dari salah paham. Kedua, jangan pernah menyerah dan putus Legenda Si Penakluk RajawaliSi Penakluk Rajawali adalah salah satu cerita rakyat Sulawesi Selatan yang cukup dikenal di Indonesia. Melansir dari cerita ini mengisahkan tentang menceritakan kisah tentang seorang penakluk rajawali, seorang putri raja dan juga seekor diawali dari keresahan seorang raja yang harus mengorbankan satu putri kesayangannya kepada rajawali raksasa. Karena itu, ia pun mengadakan sayembara barang siapa yang bisa menaklukkan rajawali tersebut akan dinikahkan dengan putrinya yang lewatlah seorang pemuda yang melihat sang putri seperti pasrah menanti kematian. Pemuda tersebut memutuskan untuk menemani sang Putri dan akhirnya menaklukkan rajawali para warga yang bersembunyi di sekitar tempat itu baru muncul dan segera mencincang dan memotong-motong tubuh rajawali itu. Mereka ingin dikatakan sebagai pahlawan yang berhasil mengalahkan rajawali itu untuk mendapatkan hadiah yang pemuda sakti itu tidak meminta hadiah yang dijanjikan melainkan pamit meninggalkan sang Putri dan melanjutkan perjalanannya. Sebagai ucapan terima kasih, sang Putri memberikan selendangnya kepada pemuda harinya, digelar pesta besar-besaran. Tidak ketinggalan pula berbagai seni pertunjukan dipertontonkan. Bahkan dalam pesta itu, raja juga mengadakan lomba sepak raga bola kaki. Ternyata pemuda penakluk rajawali turut serta dalam perlombaan itu. Lengan pemuda itu dibalut dengan selendang yang diberikan oleh Raja sangat kagum kepada pemuda itu. Karena selain sakti pemuda itu juga mahir bermain sepak raga. Akhirnya, sang Raja pun menikahkan pemuda itu dengan putrinya yang selamat dari santapan moral dari cerita rakyat Sulawesi Selatan, Si Penakluk Rajawali adalah harus tulus dalam tolong menolong. Serta tidak mengharapkan imbalan dari hal yang tidak Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Kisah La Tongko-TongkoKisah La Tongko-Tongko berasal dari cerita rakyat Sulawesi Selatan. Melansir buku Cerita Rakyat Daerah Wajo di Sulawesi Selatan, di kisahkan hidup seseorang anak yang sangat bodoh bernama La hari, La Tongko-Tongko mengatakan kepada ibunya bahwa dia ingin menikah. Ibunya mengatakan untuk mencari gadis yang ingin menikah Tongko-tongko pun pergi berjalan-jalan untuk mencari perempuan. Tidak lama kemudian La Tongko-tongko bertemu gadis pembawa kentang dan mengatakan kepada gadis tersebut bahwa Ia ingin menikahinya. Gadis tersebut pun melemparnya dengan kentang. Hal itu pun terulang saat La Tong-tongko ia menemui pembawa putus asa, La Tongko-tongko kemudian masuk ke sebuah sebuah tempat sepi penuh dengan semak-semak dan menemukan gadis. Dia kembali mengutarakan keinginannya untuk menikahi gadis itu. Tetapi tidak mendapat merespon karena ternyata gadis tersebut telah meninggal. Karena tidak merespon saat diajak menikah, La Tongko-tongko menganggap gadis itu setuju dan membawanya pulang. Ibunya pun kaget melihat mayat di La Tongko-tongko bertanya kepada ibunya, bagaimana Ia mengetahui bahwa itu mayat. Sang ibu mengatakan hal itu diketahui dari bau mayat dari gadis harinya, La Tongko-tongo tiba-tiba mencium bau busuk saat makan malam bersama ibunya. Ia pun mengatakan bahwa ibunya sudah mati dan ingin menguburnya. Padahal sang ibu hanya kentut. Ibunya pun lari keluar menjauhi La tak lama La Tongko-tongko pun kentut. Setelah mencium bau busuk dari tubuhnya, Ia pun mengubur untuk tubuhnya sementara kepalanya tetap di atas moral yang paling ditekankan pada cerita rakyat Sulawesi Selatan ini adalah berpikirlah sebelum bertindak dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterima. Simak Video "Siswa SMP di Makassar Tewas, Diduga Terjatuh dari Gedung Sekolah" [GambasVideo 20detik] asm/sar
Blog sebagian besar berisi kumpulan dongeng cerita rakyat yang berasal dari nusantara. Namun demikian blog ini juga berisi cerita rakyat dunia dan cerita tentang hewan yang memiliki pesan moral yang baik untuk diceritakan kepada anak-anak. Dua cerita rakyat yang kami posting kali ini berasal dari Pulau Sulawesi. Dijamin setelah menceritakan dongeng ini kepada si kecil, imajinasi mereka akan semakin berkembang. Dua cerita rakyat ini sangat cocok dijadikan dongeng sebelum tidur anak. Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara Indara Pitaraa dan Siraapare Tersebutlah cerita dua anak kembar pada masa lampau. Keduanya anak lelaki yang ajaib, karena ketika lahir keduanya telah menggenggam keris di tangan kanan masing-masing. Anak kembar yang pertama bernama Indara Pitaraa dan yang kedua Siraapare namanya. Indara Pitaraa dan Siraapare tumbuh menjadi anak-anak yang nakal. Keduanya kerap menggunakan keris masing-masing untuk alat kenakalan mereka. Keduanya kerap merusak tanaman dan juga membunuh hewan peliharaan penduduk. Penduduk pun menjadi resah karena perbuatan Indara Pitaraa dan Siraapare. Kedua orang tua anak kembar itu juga telah dibuat pusing karena perbuatan Indara Pitaraa dan Siraapare itu. Kedua orangtua Indara Pitaraa dan Siraapare merasa tak sanggup lagi menghentikan ulah kenakalan dua anak kembar itu. Ibu dua anak kembar itu akhirnya menyuruh kedua anak kembarnya itu untuk pergi merantau. Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara Indara Pitaraa dan Siraapare Indara Pitaraa dan Siraapare sangat senang disuruh pergi merantau. Sebelum berangkat, ibu dua anak kembar itu membekali dengan tujuh buah ketupat, tujuh butir telur, tujuh ruas batang tebu, dan dua belah kelapa tua. Keduanya juga dibekali dengan tempurung kelapa yang digunakan untuk penutup kepala. Dua anak kembar itu pun rnemulai perjalanan merantau mereka. Keduanya menerobos hutan belantara, menyeberangi sungai, menuruni lembah, dan juga mendaki bukit serta gunung. Setiap kali melewati satu gunung, Siraapare meminta waktu sejenak untuk beristirahat. Indara Pitaraa menuruti keinginan adik kembarnya itu. Indara Pitaraa memangku Siraapare sampai tertidur. Setelah Siraapare terbangun, masing-masing dari keduanya lantas memakan satu buah ketupat, satu butir telur, dan seruas batang tebu. Begitu yang mereka lakukan hingga melewati gunung keenam. Ketika keduanya tiba di puncak gunung ketujuh, Indara Pitaraa yang belum pernah beristirahat merasa sangat lelah. Ia meminta waktu untuk beristrahat. Adik kembarnya lantas memangkunya hingga ia tertidur. Ketika Siraapare tengah memangku Indara Pitaraa, mendadak datang angin topan yang besar. Siraapare lantas membangunkan kakak kembarnya. Indara Pitaraa menyarankan agar mereka menyimpulkan tali pinggang masing- masing agar keduanya tidak terpisah jika diterjang angin topan itu. Angin topan dahsyat itu menerjang keduanya Jan menerbangkan dua saudara kembar itu ke angkasa. Meski Indara Pitaraa dan Siraapare telah erat-erat menyimpulkan tali pinggang masing- masing, namun keduanya terpisahkan setelah terkena terjangan angin topan. Angin topan pun terus menerbangkan dan menjauhkan dua saudara kembar itu. Indara Pitaraa akhirnya jatuh di sebuah wilayah yang tengah diamuk oleh burung garuda. Siraapare jatuh di sebuah wilayah yang tengah dilanda peperangan. Seperti halnya warga lainnya, Siraapare segera nelibatkan diri dalam peperangan. Bersenjatakan keris pusakanya. Siraapare berperang dengan gagah berani tempurung kelapa yang diberikan ibunya sangat berguna dalam berbagai peperangan yang diikutinya itu. Aneka senjata tidak mampu melukai kepalanya karena terhalang tempurung kelapa yang dikenakan Siraapare. Dengan kegagahan, kepiawaian, dan keberaniannya, Siraapare lantas dipercaya menjadi pemimpin pasukan. Berkat pimpinan Siraapare, pasukan itu menuai kemenangan. Siraapare akhirnya dipilih menjadi raja wilayah tersebut. Indara Pitaraa jatuh di sebuah wilayah yang sepi. Semua penduduk bersembunyi karena takut dimangsa burung garuda ganas. Indara Pitaraa melihat sebuah rumah yang indah. Ketika ia memasuki rumah itu ia melihat sebuah gendang besar. Indara Pitaraa menepuk gendang besar itu dan terdengar sebuah suara dari dalam gendang besar, “Jangan pukul gendang ini. Burung garuda ganas itu akan datang dan memangsamu!” Indara Pitaraa terkejut. Dengan kerisnya, disobeknya kulit gendang besar itu. Ia melihat seorang gadis berada di dalam gendang besar dengan wajah pias ketakutan. Si gadis lantas menceritakan adanya burung garuda ganas pemangsa manusia. Segenap warga dibuat ketakutan karenanya. “Jangan engkau takut,” ujar Indara Pitaraa. “Aku akan menghadapi burung garuda ganas itu” Si gadis kembali menjelaskan, burung garuda itu akan datang jika cuaca tampak mendung. Burung garuda ganas itu akan hinggap di atas dahan pohon mangga macan. Indara Pitaraa menunggu kedatangan burung garuda ganas itu ketika cuaca terlihat mendung. Seketika melihat adanya orang, burung garuda itu pun lantas meluncur untuk menyambar. Namun, sebelum burung garuda itu menyambarnya, Indara Pitaraa telah melompat dan bertengger di dahan pohon mangga macan. Burung garuda itu kemudian meluncur menuju dahan pohon mangga macan, Indara Pitaraa telah melompat ke atas tanah. Begitu seterusnya yang terjadi hingga burung garuda ganas itu akhirnya kelelahan. Ketika itulah Indara Pitaraa menyerang dengan menggunakan kerisnya. Burung garuda ganas itu pun mati terkena keris pusaka Indara Pitaraa. Negeri itu pun kembali aman dan damai. Segenap warga merasa lega karena burung garuda ganas yang mereka takuti telah mati. Mereka mengelu-elukan Indara Pitaraa. Sebagai balas terima kasih, mereka menikahkan Indara Pitaraa dengan si gadis yang bersembunyi di dalam gendang besar yang ternyata adalah putri raja. Indara Pitaraa melanjutkan perjalanannya. Tibalah ia di sebuah negeri yang telah ditaklukkan oleh seekor ular besar. Ia tiba di sebuah rumah besar. Dilihatnya orang-orang di dalam rumah itu tengah mendandani seorang gadis berwajah cantik. Sangat mengherankan, orang-orang itu mendadani si gadis seraya menangis. “Apa yang terjadi?” tanya Indara Pitaraa. Orang-orang pun menjelaskan jika mereka hendak mempersembahkan si gadis kepada ular besar yang berdiam di sebuah gua. Jika mereka tidak mempersembahkan si gadis, ular besar itu akan datang ke negeri itu dan mengamuk. “Ular besar itu akan memangsa semua warga negeri ini jika tidak diberi persembahan,” kata seorang warga. “Janganlah kalian takut,” ujar Indara Pitaraa. “Biarkan ular besar itu datang ke sini. Aku akan menghadapinya.” Tidak berapa lama kemudian ular besar itu benar-benar datang. Ia tampak sangat marah karena terlambat diberikan persembahan. Gadis yang dijanjikan warga untuk persembahan kepadanya tidak juga kunjung tiba. Ia mengancam akan memangsa seluruh warga. Ular besar itu langsung menuju rumah si gadis dan bertemu dengan Indara Pitaraa yang terlihat siap melawannya. Ular besar itu langsung menyerang Indara Pitaraa. Ia memagut dan menelan Indara Pitaraa. Sangat mengherankan, Indara Pitaraa dapat keluar dari tubuh ular besar itu tanpa terluka sedikit pun juga. Kembali ular besar itu memagut dan menelan Indara Pitaraa, namun kembali pula Indara Pitaraa dapat keluar dari tubuh ular besar itu dengan selamat. Berulang-ulang hal itu terjadi hingga ular besar itu akhirnya kelelahan. Indara Pitaraa akhirnya menyerang ular besar itu dengan keris pusakanya. Serangannya mematikan hingga akhirnya ular besar itu pun mati. Tubuh ular besar itu terpotong-potong, daging tubuhnya terhambur hingga memenuhi wilayah yang luas. Segenap warga negeri itu bergembira mendapati ular besar itu telah mati. Mereka pun mengangkat Indara Pitaraa sebagai raja mereka. Indara Pitaraa memerintah dengan adil dan bijaksana hingga segenap rakyat yang dipimpinnya bertambah makmur dan sejahtera. Waktu terus berlalu. Siraapare yang tetap bertakhta sebagai raja pada suatu hari mengadakan perjalanan. Ia tiba di negeri yang dipimpin Indara Pitaraa. Pertemuan antara dua saudara kembar itu pun terjadi. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan penuh kerinduan. Keduanya juga sepakat untuk pulang ke kampung halaman mereka guna menengok kedua orangtua mereka. Tak berapa lama kemudian Indara Pitaraa dan Siraapare berangkat menuju kampung halaman mereka. Masing-masing membawa istri. Syandan, sepeninggal dua anak kembarnya dahulu, kedua orangtua Indara Pitaraa dan Siraapare amat berduka. Mereka terus menangis dengan menelungkupkan wajah pada bantal kapuk. Bertahun-tahun mereka menangis, hingga biji-biji kapuk yang terdapat di dalam bantal pun tumbuh menjadi tanaman kapuk karena tersirami airmata mereka. Ketika mendapati dua anak kembar mereka telah kembali, mereka segera mengangkat kepala mereka dari bantal kapuk. Tak terkirakan gembira dan bahagia hati mereka mendapati kedua anak mereka telah kembali dan keduanya telah pula menjadi raja. Bertambah- tambah kegembiraan mereka mendapati dua anak kembar mereka kembali bersama istri-istri mereka. Sebagai wujud kegembiraan hati keduanya, kedua orangtua Indara Pitaraa dan Siraapare itu mengadakan pesta yang dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Pesan Moral dari Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara Indara Pitaraa dan Siraapare adalah hubungan antar saudara hendaklah senantiasa terus diperkuat. kebersamaan di antara saudara akan dapat menjadi kekuatan yang ampuh untuk menanggulangi masalah atau sesuatu yang berat. Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara La Moelu Tersebutlah seorang anak lelaki bernama La Moelu. Ia hidup bersama ayahnya yang telah tua. Ibunya telah lama meninggal dunia, ketika La Moelu masih bayi. Karena ayahnya telah tua, La Moelu-Iah yang mencari nafkah. Ia mencari ikan untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan juga ayahnya. Ikan-ikan hasil tangkapannya itu dijualnya di pasar. Pada suatu hari La Moelu pergi memancing. Telah seharian ia memancing, tidak seekor ikan pun yang berhasil dipancingnya. Waktu senja pun tiba. La Moelu yang telah berniat pulang menjadi gembira karena mata kailnya ditarik ikan. La Moelu menarik pancingnya. Seekor ikan mungil berada di ujung kailnya. La Moelu keheranan melihat ikan kecil itu. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat ikan kecil yang terlihat cantik itu. Maka, dibawanya ikan kecil itu untuk dipeliharanya di rumah. Ikan kecil itu dipelihara La Moelu di dalam daun yang dibentuk menyerupai mangkok. Ayah La Moelu juga senang dengan ikan kecil yang cantik tersebut. Ia menyarankan agar La Moelu memelihara ikan kecil tersebut di dalam belanga. La Moelu menuruti saran ayahnya. Dimasukkannya ikan kecil itu di dalam belanga dengan diberinya air dan juga makanan yang cukup. Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara La Moelu Keesokan harinya La Moelu terperanjat ketika mendapati ikan yang dipeliharanya di dalam belanga itu telah tumbuh membesar hingga sebesar belanga. Tak terkirakan gembiranya La Moelu. “Benar-benar ikan ajaib,” katanya, “tumbuhnya sangat cepat.” Ayah La Moelu yang turut gembira lantas menyarankan agar ikan tersebut dipelihara di dalam lesung. La Moelu menuruti saran ayahnya. Dimasukkannya ikan peliharaannya itu di dalam lesung yang telah diberinya cukup air. Tak lupa, diberinya pula makanan. Keajaiban kembali terjadi. Keesokan harinya ikan peliharaan La Moelu tersebuttelah bertambah besar hingga sebesar lesung. “Bagaimana ini, Ayah?” tanya La Moelu. “Harus kita pelihara di mana ikan ini?” Karena tidak ada lagi tempat besar yang dapat menampung ikan itu, Ayah La Moelu menyarankan agar melepaskan ikan itu ke laut. La Moelu lantas membawa ikan itu ke laut. Ikan itu tampak gembira dilepaskan di laut. Ia berenang mengitari kaki La Moelu seolah-olah mengucapkan terima kasih. La Moelu sangat senang mendapati ikan itu sangat jinak kepadanya. Katanya kemudian, “Wahai ikan, kuberi nama untukmu Jinnande Teremombonga. Jika namamu kupanggil, hendaklah engkau muncul. Aku akan memberimu makanan jika engkau muncul ke permukaan.” Ikan yang telah diberi nama Jinnande Teremombonga itu mengangguk-anggukkan kepala. Ia lantas berenang dengan gembira ke laut lepas. Sejak saat itu La Moelu setiap hari ke laut untuk memberi makan Jinnande Teremombonga. Setibanya di pinggir laut, La Moelu akan memanggil nama Jinnande Teremombonga. Ikan itu akan muncul ke permukaan laut dan menghampiri La Moelu dengan gembira. Ia akan menyantap makanan pemberian La Moelu. Ia bahkan kerap bermain-main dengan La Moelu yang sangat menyayanginya. Pada suatu hari tujuh pemuda mendapati La Moelu yang tengah bercanda dengan Jinnande Teremombonga. Semula tujuh pemuda itu kagum dengan persahabatan erat antara La Moelu dan ikan besar itu. Namun, kekaguman mereka berubah menjadi niat jahat untuk menangkap Jinnande Teremombonga! Mengetahui cara La Moelu memanggil ikan besar itu, tujuh pemuda itu pun menirunya. Mereka memanggil Jinnande Teremombonga. Seketika ikan besar itu muncul ke permukaan laut dan menghampiri mereka, ketujuh pemuda itu lantas menjerat Jinnande Teremombonga dengan jala besar yang sangat kuat. Meski Jinnande Teremombonga berusaha keras untuk melepaskan diri, namun jala itu sangat kuat hingga usaha ikan besar itu menjadi sia-sia. Tujuh pemuda itu menyeret Jinnande Teremombonga ke pantai dan menyembelih serta memotong-motongnya menjadi tujuh bagian. Masing-masing pemuda mendapat satu bagian. Mereka lantas membawa daging ikan itu ke rumah masing-masing dengan hati riang. Menurut mereka, bagian daging ikan untuknya itu tidak akan habis dimakannya selama seminggu. Pada sore harinya La Moelu datang ke pantai dan memanggil Jinnande Teremombonga. Namun, ikan itu tidak muncul seperti biasanya. La Moelu terus memanggil, namun ikan yang sangat disayanginya tidak juga menampakkan diri. Keheranan La Moelu akhirnya tersingkap setelah beberapa orang menceritakan kepadanya perihal telah dibunuhnya Jinnande Teremombonga oleh tujuh pemuda tadi pagi. La Moelu sangat sedih mendengar ikan kesayangannya itu menemui kematian secara mengenaskan. Ia pun menuju rumah salah seorang pemuda penangkap ikan kesayangannya. Bertambah tambah sedih hatinya ketika mendapati pemuda itu beserta keluarganya tengah memakan daging Jinnande Teremombonga dengan amat Iahapnya. Tulang-tulang Jinnande Teremombonga mereka buang hingga berserakan di sekitar rumah itu. La Moelu mengumpulkan tulang-tulang Jinnande Teremombonga dan membawanya pulang. Ketika tiba di rumahnya, La Moelu lantas menguburkan tulang belulang itu di halaman belakang rumahnya. Selesai menguburkan, La Moelu berujar, “Beristirahatlah dengan tenang wahai Jinnande Teremombonga yang sangat kusayangi. Beristirahatlah dengan tenang wahai sahabatku.” Keesokan harinya La Moelu terperangah ketika mendapati sebuah keajaiban di halaman belakang rumahnya. Ia melihat sebatang pohon tumbuh di tempat ia menanam tulang belulang Jinnande Teremombonga. Pohon yang luar biasa ajaib. Pohon itu berbatang emas, berdaun perak, dan berbuah permata! Banyak pula buahnya La Moelu memetik beberapa buah dan menjualnya. Ia terbelalak mendapati buah-buah itu dihargai sangat tinggi oleh pembelinya. Hasil penjualan buah-buah itu sangat mencukupi kebutuhan dirinya danjuga ayahnya. Bahkan, untuk membangun rumah yang indah pun masih juga cukup. La Moelu yang baik hati itu pun akhirnya hidup berbahagia. Ia dikenal sebagai sosok yang kaya raya di kampungnya. Namun demikian ia tidak menyombongkan kekayaannya. Ia bahkan kerap berbagi kepada orang-orang yang datang dan meminta bantuan kepadanya. Tangannya senantiasa terulur untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkannya. Pesan Moral dari Kumpulan Dongeng Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara La Moelu adalah kita hendaklah menyayangi hewan karena hewan itu sesungguhnya ciptaan tuhan seperti halnya kita. hewan yang kita sayangi akan membalas dengan kasih sayangnya pula. Jika anda merasa artikel yang kami posting bermanfaat kami mohon bantuan untuk membagikan artikel ini di facebook, google plus, twitter atau media sosail yang lain. Dengan membantu membagikan cerita rakyat yang kami posting, sama dengan membantu anak Indonesia untuk mendapatkan dongeng seperti yang kita dengar ketika kita masih kecil. Terima kasih kami ucapkan untuk rekan-rekan yang sudah membagikan blog kami di media sosial. Salam dari admin
cerita rakyat dari sulawesi tenggara